SOLOPOS.COM - Jembatan kecil di Taman Sekartaji, Jebres, Solo, berlumut, rapuh, dan hanya ditambal dengan bambu seadanya, serta di beberapa sisi dipenuhi sampah, Minggu (12/5/2024). (Solopos.com/Candra Septian Bantara)

Bisa membuat tidak bisa merawat. Ini juga terjadi di Kota Solo. Beberapa warga Kota Solo mengirimkan keluhan di layanan aduan daring Pemerintah Kota Solo tentang pengelolaan dan perawatan Taman Sekartaji.

Taman yang berada di bantaran Kali Anyar itu dibangun pada 2009. Kini kondisinya tidak layak lagi disebut taman lantaran telantar, rusak, kumuh, tanpa perawatan rutin. Pemerintah Kota Pemkot Solo masif membangun aneka taman kota dan ruang terbuka hijau untuk publik,  khususnya pada masa Wali Kota Joko Widodo.

Promosi Tragedi Bintaro 1987, Musibah Memilukan yang Memicu Proyek Rel Ganda 2 Dekade

Taman Sekartaji adalah proyek pada 2009 yang bersamaan dengan penataan dan pembangunan taman-taman kota lainnya. Proyek ini ternyata tidak disertai visi keberlanjutan. Semestinya ada sistem yang memastikan semua proyek yang dibangun pemerintah dipelihara terus-menerus meski pemimpin daerah berganti.

Pembangunan kesadaran warga untuk bersama-sama memiliki aneka ruang publik seperti taman tersebut juga minim. Ini sebenarnya jamak terjadi di aneka proyek penataan dan pembangunan kota. Justru karena jamak itu semestinya muncul kepeloporan di Kota Solo mencegah yang jamak itu terulang terus-menerus.

Membangun taman kota, di mana pun lokasinya dan bagaimana pun konstruksinya, mensyaratkan keberlanjutan. Aspek keberlanjutan ini, yang paling mendasar, berupa sistem perawatan yang jelas, sistem pembaruan tetumbuhan yang jelas, dan sistem perbaikan kerusakan sarsana prasarana yang jelas.

Penanggung jawab keberlanjutan taman kota tentu saja harus dua arah. Pemerintah Kota Solo lewat unit kerja kerja atau satuan kerja tertentu menjadi penanggung jawab perawatan rutin yang mensyaratkan alokasi anggaran.

Pada saat yang sama warga harus merasa ikut memiliki taman tersebut yang memancing tindakan swadaya warga turut menjaga dan merawat taman. Inilah yang absen dalam konteks Taman Sekartaji dan pasti juga taman-taman lainnya.

Kualitas taman perkotaan berperan penting dalam peningkatan nilai dan kualitas kehidupan perkotaan. Dimas Agung Prayoga, Wisnu Sasongko, dan Chairul Maulidi dalam karya ilmiah yang dimuat jurnal Planning for Urban Region and Environment Universitas Brawijaya Volume 8, Nomor 4, Oktober 2019 menyitir Malek et al. dalam The Making of a Quality Neighbourhood Park: A Path Model Approach. Social and Behavioral Sciences mendefinisikan kualitas taman lingkungan sebagai tingkat kesuksesan ruang terbuka hijau yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Kualitas taman tidak semata-mata mengenai teknik dan prosedur, tetapi termasuk para pengguna taman. Suatu taman dapat dikatakan berkualitas baik apabila terdapat kegiatan/aktivitas pengguna taman.

Peran serta masyarakat dapat dimulai dari lingkup terkecil, yaitu berpartisipasi mengelola ruang terbuka hijau dan taman lingkungan. Pemerintah Kota Solo harus segera mengambil langkah melibatkan masyarakat, setidaknya melalui fasilitasi pemerintah kecamatan dan kelurahan, untuk terlibat memelihara ruang-ruang publik seperti Taman Sekartaji itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya