SOLOPOS.COM - R. Bambang Aris Sasangka (Solopos/Istimewa)

Solopos.com, SOLO – Solo’s past is the Solo’s future. Begitu Joko Widodo pernah berkata ketika menjabat sebagai Wali Kota Solo. Pernyataan ini bisa ditafsirkan sebagai masa lalu Kota Solo harus menjadi pijakan bagi upaya Kota Solo membangun masa depannya.

Dengan begitu ingatan dan segala penanda mengenai masa lalu harus selalu dirawat dengan baik sebagai rujukan dan sebagai pedoman dalam pembangunan selanjutnya.

Promosi Mimpi Prestasi Piala Asia, Lebih dari Gol Salto Widodo C Putra

Bicara soal ingatan pasti setidaknya ada dua macam, yaitu ingatan soal keburukan dan ingatan soal kebaikan. Ingatan soal keburukan bisa jadi mungkin era kolonialisme yang membawa penindasan kepada rakyat yang dijajah.

Ingatan buruk masa lalu juga bisa jadi ingatan soal kehancuran Kota Solo dalam masa pergolakan gerakan reformasi 1998. Seperti dalam kenyataan sejarah, banyak hal buruk pada masa lalu yang justru menjadi pemicu aneka perubahan menuju kebaikan pada masa depan.

Trauma kekerasan pada kalatidha seputar gerakan reformasi 1998 memberi pembelajaran mengenai pentingnya mempererat jalinan persaudaraan dan kemanusiaan demi mencegah terjadinya hal serupa pada masa depan.

Kolonialisme dengan segala pahit getirnya juga membawa pelajaran bagi generasi kini soal langkah ke masa depan. Apakah merawat peninggalan masa kolonial sama dengan mengglorifikasi zaman itu?

Apakah “menghancurkan” peninggalan zaman kolonial sama dengan menghapus trauma masa lalu demi zaman yang lebih baik? Pemikiran ini kembali muncul khususnya ketika kontroversi soal pemanfaatan lahan Benteng Vastenburg di Kota Solo menyeruak kembali.

Kontroversi itu muncul lagi setelah berita-berita bahwa aparat kejaksaan telah menyita beberapa bagian lahan benteng peninggalan Belanda di pusat Kota Solo itu terkait perkara korupsi oleh terpidana Benny Tjokrosaputro.

Terjadilah kilas balik soal bagaimana lahan tempat bangunan cagar budaya itu jadi dikuasai oleh pihak swasta atau perorangan. Yang menarik, berdasarkan penelusuran data dan kepustakaan dan berdasarkan petunjuk kawan saya di Pusat Dokumentasi Solopos, muncul pula kontrovesi pada masa lalu ihwal lahan strategis seperti Benteng Vastenburg dikuasai swasta.

Lalu, harus bagaimana? Dalam buku Benteng Dulu, Kini, dan Esok dengan editor Inajati Adrisijanti yang diakses di z-lib.org pada Jumat (28/7/2023) ada beberapa perbedaan pendapat yang disampaikan sejumlah penulis dari kalangan sejarawan dan arkeolog.

Ada yang bersikukuh bahwa benteng harus dipertahankan sebagaimana wujudnya yang tersisa dan dimanfaatkan untuk kepentingan publik seperti taman umum dan museum. Ada juga yang memberikan tawaran pemanfaatan benteng secara kompromistis.

Argumennya, keberadaan bangunan benteng sebagai artefak masa lalu memang harus dipertahankan sebagai penanda memori dan warisan sejarah. Situs benteng itu sendiri juga tidak perlu dianggap tabu untuk dimanfaatkan secara komersial agar membawa kemanfaatan bagi perekonomian Kota Solo.

Meski kedua macam pendapat ini menarik untuk terus dibahas, saat ini yang lebih penting adalah menyelamatkan situs itu dari tarik-menarik kepentingan. Pemerintah tetap saja jadi yang paling berhak mengelola situs bernilai sejarah.

Hak untuk mengelola situs itu di tangan pemerintah akan lebih bisa memastikan bahwa pemeliharaan dan penjagaan atas nilai-nilai kesejarahannya bisa ikut diawasi oleh masyarakat sebagai ”pemegang saham” pemerintahan.

Pengelolaan oleh pemerintah juga akan memberi jaminan akses yang seluas-luasnya untuk memanfaatkannya tanpa terperangkap sekat-sekat komersialisme. Status sita eksekusi yang dikenakan aparat kejaksaan atas lahan Benteng Vastenburg menjadi karunia terselubung alias blessing in disguise bagi semua pemangku kepentingan umum di Kota Solo.

Karunia terselubung itu berupa kesempatan untuk mengembalikan benteng itu sebagai ruang publik. Hal ini sekaligus menjadi pelajaran pada masa depan agar pemerintah tidak abai terhadap situs-situs bersejarah yang ada dan baru nyap-nyap ketika situs-situs itu menjadi milik pribadi yang sulit dijamin tanggung jawabnya dalam pemeliharaan dan pemanfaatan.

Kita bisa belajar dari kasus perusakan tembok benteng bekas Keraton Mataram di Kartasura  dan di Dalem Singopuran, juga di Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, serta pembongkaran bangunan bekas Kepatihan Mangkunegaran di Jl. Ronggowarsito, Kota Solo, sebelah timur RS PKU Muhammadiyah.

Dalam kasus itu orang yang merusak dan membongkar berdalih ”tidak tahu.” Kita tentu layak lega dengan kabar bagus mengenai proses revitalisasi kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Pertengahan tahun ini dan seterusnya proses mulai berjalan, dimulai dari alun-alun, lalu beranjak ke bagian-bagian dalam. Ini menjadi bagian proses memelihara warisan budaya dari zaman yang lebih lampau, yang menjadi bekal kekayaan dalam perjalanan menyongsong dan menjalani masa depan.

Ngelmu iku, kalakone kanthi laku / lekase lawan kas, / tegese kas nyantosani / setya budya pangekese dur angkara //. Begitu uraian dalam tembang Pocung yang menggambarkan manfaat ilmu pengetahuan bagi manusia.

Ilmu itu harus diraih dengan cara sungguh-sungguh dan proses meraih ilmu itu akan mengajarkan ketekunan dan keteguhan dalam berjuang. Ketekunan dan keteguhan berjuang itu akan membuat manusia tangguh menghadapi segala tantangan dan mengendalikan hawa nafsunya.

Ilmu dan pelajaran bagi masyarakat itu pun berasal antara lain dari sejarah. Kalau masyarakat paham sejarah, mereka akan bisa belajar menghadapi masa depan karena seperti kata pepatah Prancis histoire se repete atau sejarah selalu berulang.

Kalau kita tidak belajar dari masa lalu, dari sejarah, maukah kita berhadapan kembali dengan masalah seperti yang pernah terjadi pada masa lalu?

(Esai ini terbit di Harian Solopos edisi 2 Agustus 2023. Penulis adalah wartawan Solopos Media Group)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya