SOLOPOS.COM - Novie Syaiful Hidayat (Solopos/Istimewa)

Solopos.com, SOLO – Pada 2013-2015, ketika saya menjalani studi di Kota Jogja, saya sering menemui penjual makanan rebusan, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang, tales, dan lain-lain.

Penjual menyediakan aneka makanan rebusan itu dalam satu gerobak di daerah sekitar Stasiun Lempuyangan, Kota Jogja. Penjual makanan rebusan tersebut selalu memangkal setiap hari.

Promosi Mimpi Prestasi Piala Asia, Lebih dari Gol Salto Widodo C Putra

Kala itu setiap hari saya menemui pedagang makanan rebusan itu ketika menempuh perjalanan dari kampus ke stasiun. Pedagang itu memang biasa memangkal di sana mulai siang atau petang hari.

Sekarang saya bertugas di institusi penyuluhan pertanian di wilayah Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Setiap sore, ketika pulang kerja, saya sering menemui penjual aneka makanan rebusan di daerah depan Rumah Makan Jimbaran, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar.

Akhirnya saya sering mampir untuk membeli dan sedikit banyak menerapkan pola konsumsi ngrowot. Ternyata penjual makanan rebusan tersebut, Mas Bagas, juga sering mengunggah video dan foto dagangannya di grup Facebook Info Wong Karangpandan dan grup-grup yang lain.

Dalam perspektif saya, ngrowot atau makan rebusan (ubi-ubian, kacang, dan lain-lain) merupakan ikhtiar menerapkan pola hidup yang lebih sehat. Ngrowot adalah istilah bahasa Jawa yang menjelaskan tentang pola konsumsi.

Ngrowot menghindari memakan hasil pertanian di atas tanah. Bahan-bahan pangan yang dikonsumsi adalah hasil pertanian yang berada di dalam tanah atau lebih dikenal dengan istilah pala kependhem.

Cara pengolahan dan penyajian pala kependhem tanpa dicampur dengan bahan lain (gula/garam/bumbu). Dalam pola konsumsi ngrowot, ubi-ubian pala kependhem tadi hanya direbus/dikukus.

Dalam khazanah kebudayaan Jawa ada tiga jenis atau kategori makanan (hasil pertanian) yang bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari, yaitu pala gumantung, pala kesimpar, dan pala kependhem.

Pala gumantung adalah hasil tanaman yang menggantung (dan berumur pendek), seperti papaya dan pisang. Pala kesimpar adalah hasil tanaman yang terletak di permukaan tanah yang menjalar atau merambat, seperti semangka, ketimun, dan labu.

Pala kependhem adalah hasil tanaman yang terpendam di dalam tanah, seperti ubi jalar kacang tanah, ketela pohon, tales, uwi, gembili, suwek, kentang, dan lain-lain. Pala kependhem adalah bahan makanan yang sering dikonsumsi sebagai krowotan.

Pola konsumsi ngrowot dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai wujud langkah spiritual yang biasa disebut “lelaku” atau “prihatin” atau ikhtiar mengurangi kenikmatan, untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta Alam Semesta.

Laku demikian dikaitkan dengan harapan-harapan kehidupan yang lebih baik, kehidupan anak cucu yang lebih bahagia di dunia dan akhirat, keluarga yang ayem tentrem (rukun), dan harapan-harapan baik lainnya.

Filosofi pala kependhem bagi masyarakat Jawa, pertama, tanaman berasal dari tanah melambangkan asal kehidupan manusia yang diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah. Kedua, tanah yang dipijak merupakan sesuatu yang sangat sakral.

Dari dalam tanah manusia bisa mengambil makanan untuk hidup. Makanan yang langsung berasal dari dalam tanah juga harus dihargai. Ketiga, berbagai nama pala kependhem memiliki filosofi kehidupan bagi masyarakat Jawa.

Tela memiliki makna netheli barang sing ala. Artinya meninggalkan sesuatu yang jelek. Mengonsumsi pala kependhem bermaksud memberikan pelajaran bagi generasi penerus agar menerapkan pola hidup sederhana, dengan memanfaatkan sesuatu yang ada di lingkungan, termasuk bahan makanan.

Pola konsumsi ngrowot akhir-akhir ini lebih terkait dengan pola hidup sehat, mengurangi garam, gula, minyak, dan bahan-bahan konsumsi lain yang jika dikonsumsi berlebih akan berakibat buruk untuk kesehatan.

Hal tersebut sejalan dengan imbauan pemerintah untuk mengurangi konsumsi beras, mengingat keberadaan lahan sawah semakin menyempit. Menurut informasi yang saya peroleh dari Dokter Endah Sekti (dokter umum di Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar), kebutuhan karbohidrat yang selama ini diperoleh dari beras (80% karbohidrat) dan gandum bisa disubstitusi oleh bahan pangan rebusan (krowotan).

Dari sisi kualitas komposisi gizi tidak kalah lengkap. Kandungan serat pada ubi-ubian lebih tinggi daripada beras sehingga proses pencernaan ubi lebih cepat daripada nasi. Ubi lebih cepat berjalan di usus daripada nasi dan juga lebih cepat dikeluarkan.

Jika dibandingkan dengan gandum, ubi-ubian merupakan bahan pangan lokal yang tidak mengandung gluten sehingga sangat cocok untuk orang-orang yang alergi terhadap gluten. Bisa disimpulkan ubi-ubian (rebusan/krowotan) lebih sehat jika dibandingkan dengan beras maupun gandum.

Apabila dilihat dari segi perekonomian, meningkatnya konsumsi rebusan ubi-ubian (krowotan) berarti meningkatkan konsumsi bahan pangan lokal. Ini secara langsung turut andil dalam meningkatkan kesejahteraan petani penghasil ubi-ubian pala kependhem dan secara tidak langsung juga meningkatkan pendapatan masyarakat.

Beberapa tahun terakhir saya menemui penyajian makanan  rebusan/krowotan di hotel-hotel baik berbintang dua sampai berbintang lima. Hotel-hotel tersebut menyajikan makanan rebusan dalam sajian sarapan tiap hari.

Seiring semakin memasyarakatnya pola hidup sehat, saya berharap pola konsumsi ngrowot menjadi salah satu tren yang bisa dipilih dan diterapkan.

(Esai ini terbit di Harian Solopos edisi 16 Mei 2024. Penulis adalah aparatur sipil negara di Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Karanganyar)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya